Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Uang dan Daya Imajinasi

Gambar
Usai perang salib yang berdarah-darah dan merenggut banyak nyawa, pihak Kristen menerbitkan uang koin emas dan perak bergambar salib, serta betuliskan ucapan syukur pada Tuhan. Di saat bersamaan, ada juga pihak yang membuat koin bertatahkan tulisan Arab yang menyatakan “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”. Toh, umat Kristen ketika itu dengan senang hati tetap mau menggunakan uang bertuliskan syahadat tersebut. Padahal, perbedaan keyakinan itu yang membuat mereka berperang dengan Islam. Di pihak Islam pun tak jauh beda. Para saudagar muslim di Afrika Utara menggunakan uang koin Kristen sebagai alat transaksi. Bahkan, para penguasa Islam yang ketika itu menyerukan jihad melawan Kristen, tetap menerima pembayaran pajak dengan menggunakan uang Kristen yang menyebut nama Yesus Kristus. Keyakinan manusia pada uang memang bisa melampaui keyakinan-keyakinan lain. Osama bin Laden, misalnya, yang sangat anti Amerika, tetap menerima dan menggunakan dolar Amerika. ...

Kebebasan yang Kusam dan Kecemasan Isaiah Berlin

Gambar
Demokrasi di hari-hari ini telah sedemikian kusam. Kebebasan di era digital seringkali menjadi ladang bagi politik kebencian dan mobilisasi kebohongan. Kebebasan seakan mengalami titik balik. Ini mirip dengan situasi yang juga pernah dicemaskan Isaiah Berlin, filsuf Inggris keturunan Rusia, saat mendapati semangat pembebasan justru berubah menjadi totalitarianisme, seperti dipraktikkan rezim komunisme Josef Stalin di Uni Soviet tahun 1940-an. Hari ini, di era internet, kita bisa merasakan lagi keresahan Berlin, meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Padahal, di awal kehadirannya, internet menawarkan harapan yang indah bagi demokrasi. Internet –terutama fitur media sosial— telah menjadi katalis bagi proses keterbukaan dan kebebasan di berbagai negara. Dalam perkembangannya, media sosial memang memiliki pengaruh yang kuat bagi demokrasi. Bahkan, revolusi dan perubahan penting di sejumlah negara bermula dari gerakan yang dimobilisasi melalui media sosial. Pada 2011, Preside...

Sayap Pikiran Ibnu Rusyd

Gambar
“Buah-buah pikiran memiliki sayap, dan tak seorang pun bisa mencegah mereka untuk terbang.” Kata-kata itu menjadi catatan penutup film Al Massir, sekaligus menjadi gambaran kisah hidup Ibnu Rusyd yang berakhir tragis. Ibnu Rusyd, pemikir muslim terkemuka di abad pertengahan, dikenal sebagai filsuf Aristotelian terbesar sepanjang masa. Ia menggunakan pendekatan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam memahami Tuhan dan ilmu agama. Ibnu Rusyd, yang juga merupakan ahli fiqh, tak mau sekadar mengandalkan mistisisme dan pengalaman personal. “Wahyu hanya bisa ditafsirkan dengan studi,” begitu keyakinan Ibnu Rusyd. Namun, banyak juga ahli fiqh yang menentang pemikir agama yang menggunakan pendekatan filsafat. Ini, antara lain, tergambar dalam pertentangan pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Al Ghazali menulis buku "Tahafut al Falasifah" (Inkoherensi Filsafat), yang kemudian dibalas Ibnu Rusyd lewat buku "Tahafut at Tahafut" (Inkoherensi Inkoheren). Sejarah r...