Sayap Pikiran Ibnu Rusyd
“Buah-buah pikiran memiliki sayap, dan tak seorang pun bisa mencegah mereka untuk terbang.” Kata-kata itu menjadi catatan penutup film Al Massir, sekaligus menjadi gambaran kisah hidup Ibnu Rusyd yang berakhir tragis. Ibnu Rusyd, pemikir muslim terkemuka di abad pertengahan, dikenal sebagai filsuf Aristotelian terbesar sepanjang masa. Ia menggunakan pendekatan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam memahami Tuhan dan ilmu agama. Ibnu Rusyd, yang juga merupakan ahli fiqh, tak mau sekadar mengandalkan mistisisme dan pengalaman personal. “Wahyu hanya bisa ditafsirkan dengan studi,” begitu keyakinan Ibnu Rusyd.
Namun, banyak juga ahli fiqh yang menentang pemikir agama yang menggunakan pendekatan filsafat. Ini, antara lain, tergambar dalam pertentangan pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Al Ghazali menulis buku "Tahafut al Falasifah" (Inkoherensi Filsafat), yang kemudian dibalas Ibnu Rusyd lewat buku "Tahafut at Tahafut" (Inkoherensi Inkoheren).
Sejarah rupanya tidak berpihak pada Ibnu Rusyd. Seiring perubahan arah politik kekuasaan Islam di Andalusia, Ibnu Rusyd ditangkap oleh Amir Al-Ma'mun (Amir Cordoba). Mantan hakim dan penasehat khalifah itu dibuang dan diasingkan ke Maroko, karena pemikirannya dianggap sesat. Buku-bukunya pun diberangus. Namun, pemikirannya tak bisa dimusnahkan dan tetap hidup hingga kini. Salah satu jasa terbesar Ibnu Rusyd adalah menulis ulang pemikiran Aristoteles, sehingga pemikiran Aristoteles tetap bisa dipelajari hingga sekarang.
Buah-buah pikiran memang memiliki sayap. Tapi orang-orang yang berpikiran buntu dan anti perbedaan, juga memiliki sayap. Dalam keseharian kita akhir-akhir ini, fenomena munculnya orang-orang yang gemar melaporkan pemikiran orang lain ke polisi, mungkin menjadi gambaran kepak sayap dari pikiran buntu.

Komentar
Posting Komentar