Uang dan Daya Imajinasi


Usai perang salib yang berdarah-darah dan merenggut banyak nyawa, pihak Kristen menerbitkan uang koin emas dan perak bergambar salib, serta betuliskan ucapan syukur pada Tuhan. Di saat bersamaan, ada juga pihak yang membuat koin bertatahkan tulisan Arab yang menyatakan “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”. Toh, umat Kristen ketika itu dengan senang hati tetap mau menggunakan uang bertuliskan syahadat tersebut. Padahal, perbedaan keyakinan itu yang membuat mereka berperang dengan Islam.

Di pihak Islam pun tak jauh beda. Para saudagar muslim di Afrika Utara menggunakan uang koin Kristen sebagai alat transaksi. Bahkan, para penguasa Islam yang ketika itu menyerukan jihad melawan Kristen, tetap menerima pembayaran pajak dengan menggunakan uang Kristen yang menyebut nama Yesus Kristus. Keyakinan manusia pada uang memang bisa melampaui keyakinan-keyakinan lain. Osama bin Laden, misalnya, yang sangat anti Amerika, tetap menerima dan menggunakan dolar Amerika.

Uang adalah produk imajinasi manusia yang membawa pengaruh sangat kuat. Lembaran uang kertas pada hakikatnya hanyalah sekadar kertas berwarna. Begitu juga uang koin yang sekadar logam bertatahkan gambar dan tulisan. Uang kertas dan uang koin menjadi bernilai bukan karena wujud fisiknya, melainkan berkat imajinasi manusia tentang nilai yang dilekatkan pada uang tersebut. Dan, ini telah menjadi imajinasi kolektif. Orang-orang bisa saling percaya saat bertransaksi menggunakan uang, karena mereka digerakkan oleh imajinasi kolektif yang sama. Itulah sebabnya, Yuval Noah Harari, dalam bukunya berjudul “Sapiens”, menyatakan bahwa uang adalah sistem kesaling-percayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan.

Di masa lalu, kehadiran uang mampu mengatasi kerumitan manusia.  Pada mulanya, manusia bertransaksi dengan sistem barter. Anggur ditukar dengan gandum, apel ditukar dengan jasa pembuatan sepatu, hewan ternak ditukar dengan tanah, dan sebagainya. Persoalan muncul ketika terlalu banyak komoditas yang harus ditukar. Manusia akan kesulitan mengingat kurs pertukaran, misalnya kurs nilai pertukaran antara anggur dan domba, antara apel dan jasa membuat sepatu, antara pisang dan jasa tukang cukur. Ada ratusan hingga ribuan kurs pertukaran yang harus diingat manusia. Belum lagi ketika seseorang memiliki stok anggur yang banyak, maka ia tidak lagi membutuhkan anggur saat bartransaksi. Namun, persoalan ini bisa disederhanakan setelah manusia mengenal uang. Mereka hanya cukup mengingat berapa harga barang atau jasa saat akan ditukar dengan uang. Siapa pun akan dengan senang hati menukar komoditas miliknya dengan uang, karena mereka bisa mendapatkan lagi barang atau jasa yang diinginkan dengan menggunakan uang.

Bukan cuma soal transaksi. Dengan uang, manusia juga bisa menumpuk kekayaan. Sebelumnya, manusia tidak mungkin menumpuk kekayaan berupa anggur atau apel, karena pasti akan membusuk. Namun dengan keberadaan uang, kekayaan bisa ditumpuk secara tahan lama. Selain itu, manusia juga bisa memindahkan harta kekayaan, setelah menukarnya dengan uang. Tanpa adanya uang, manusia pasti akan kesulitan memindahkan harta berupa tanah yang luas, atau ternak yang banyak, ke lokasi nan jauh.

Seiring berjalannya waktu, imajinasi manusia tentang uang menjadi sedemikian canggih. Kini uang diwujudkan dalam bentuk data-data di server komputer. Seperti dipaparkan Yuval Noah Harari, pada 2006, total jumlah uang yang beredar di dunia adalah sekitar $473 triliun. Namun, jumlah total uang  kertas dan logam ternyata kurang dari $47 triliun atau hanya sekitar 10 persen. Ini artinya, sekitar 90 persen uang di seluruh dunia, tersimpan dalam bentuk data di server-server komputer.

Pengaruh uang terhadap kehidupan pun makin canggih, karena uang juga memiliki dimensi politik. Uang sangat terkait erat dengan kekuasaan. Uang juga mampu meruntuhkan sekat-sekat antarmanusia. Manusia dipisahkan oleh perbedaan negara dan agama, namun mereka disatukan oleh uang. Uang telah membawa pengaruh yang kuat bagi kehidupan manusia. Yuval Noah Harari menempatkan uang sebagai pemersatu paling akbar umat manusia. Bahkan pengaruhnya lebih kuat dibanding agama. Saat tampil di program TED Talk, ia mengatakan: “Uang adalah salah satu konsep yang paling sukses yang ditemukan dan disebarkan oleh manusia, karena uang adalah satu-satunya konsep yang dipercaya semua orang. Tidak semua percaya Tuhan, tidak semua percaya HAM, tidak semua percaya pada nasionalisme, namun semua percaya akan uang.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ghost in the Cell: Ketika Penjara Menjadi Miniatur Kelam Indonesia

Anton Bahtiar Rifa'i

Kebebasan yang Kusam dan Kecemasan Isaiah Berlin