Abdee Negara

Saya berjumpa Abdee Negara saat hujan deras mengguyur Jakarta, pekan lalu. Kami duduk melingkari meja restoran yang menyajikan menu Eropa di Senayan City, Jakarta. Gitaris yang memutuskan rehat dari grup rock Slank akibat sakit gagal ginjal itu, terlihat sangat kurus. Tapi seperti biasa, ia tetap murah senyum, dan penampilannya selalu mengingatkan saya pada Ronnie Wood, gitaris Rolling Stones. "Saya akan lebih banyak bersama relawan (pendukung Jokowi). Karena bagaimanapun kami telah mempengaruhi banyak orang untuk memilih Jokowi. Maka saya ikut bertanggung jawab untuk mengawal Jokowi agar tetap sesuai harapan pemilih," ucap penggagas konser salam dua jari itu.

Sebenarnya, saya dan teman-teman Liputan 6, malam itu, hendak membicarakan soal penjurian Liputan 6 Award bersama Abdee. Tapi ketika saya beritahukan bahwa saya pun penderita gagal ginjal, Abdee begitu antusias. Ia kembali menjabat tangan saya sambil tertawa. "Kita senasib," ucapnya.
Slank bersama kru Liputan 6
 Kami pun berbagi pengalaman. Saya perlihatkan simino di tangan saya. Simino adalah pembuluh darah yang disatukan melalui operasi, sehingga aliran darah menjadi deras. Inilah yang ditusuk jarum saat cuci darah agar darah mengalir ke mesin dialisis. Sedangkan Abdee menggunakan double luman, yaitu kateter terdiri dari dua selang yang ditanam di dada. Kedua selang inilah yang menghubungkan pembuluh darah arteri dan vena ke mesin dialisis.

Saya dan Abdee merasakan penderitaan yang sama. Kami sering merasakan lemas yang teramat sangat, sesak napas, juga kadang pusing dan mual hingga susah makan. Tapi kami tetap bersemangat menjalani hidup. Saya tetap bekerja seperti biasa, juga menyetir sendiri di Jakarta yang macet, walau fisik kadang kedodoran. Bahkan Abdee sering menggelar meeting justru sambil cuci darah.

Semangat hidup dan optimisme. Ya, itulah modal utama penderita gagal ginjal untuk tetap tegak. Tanpa itu, mereka akan sangat rapuh. Seorang pasien cuci darah yang satu ruangan dengan saya, selalu tampak larut dalam kekecewaan. Dari hari ke hari, kondisinya semakin buruk hingga akhirnya ajal menjemput. Ada juga pasien asal Cilegon yang frustasi dengan rutinitas cuci darah. Ia termakan janji-janji manis pengobatan alternatif. Kondisinya justru memburuk hingga kehidupannya berakhir dengan cepat.


Seperti halnya Abdee, saya menjalani cuci darah, dua kali dalam seminggu. Cuci darah bukan untuk menyembuhkan. Ini hanya berfungsi menggantikan ginjal. Dengan cara inilah kami memperpanjang harapan hidup. Metode lainnya yang bisa ditempuh adalah CAPD dan transplantasi ginjal. CAPD adalah memasang kateter diperut. Melalui kateter itu penderita gagal ginjal bisa mencuci darah secara mandiri menggunakan cairan khusus, 4 kali dalam sehari. Ini harus dilakukan secara disiplin dan steril. Sedangkan transplantasi ginjal adalah mencangkok ginjal yang berasal dari pendonor. Cangkok ginjal bisa membuat penderita gagal ginjal kembali hidup normal. Walaupun, dalam banyak kasus terjadi rejection di dalam tubuh, dan harus kembali menjalani cuci darah. Yang jelas, semua metode itu adalah ikhtiar untuk memperpanjang harapan hidup. Dan semuanya harus ditopang oleh semangat dan optimisme.

Jakarta, 26 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ghost in the Cell: Ketika Penjara Menjadi Miniatur Kelam Indonesia

Anton Bahtiar Rifa'i

Kebebasan yang Kusam dan Kecemasan Isaiah Berlin