Laila Majenun

Setelah selama belasan tahun hunting, akhirnya saya bisa mendapatkan dvd film Laila Majenun (1975), garapan sutradara Sjuman Djaya. Film drama musikal ini merupakan kolaborasi apik Sjuman dengan grup rock God Bless. Secara musikal, ini adalah tonggak kebangkitan God Bless dalam industri musik. Soundtrack garapan Ian Antono dan kawan-kawan di film ini, menjadi bagian dari album pertama God Bless, Huma di Atas Bukit. Di album ini, Sjuman turut menciptakan dua lagu: Huma di Atas Bukit dan Sesat. Lirik kedua lagu itu benar-benar bisa bersenyawa dengan jiwa musikal God Bless. Dalam kapasitas sebagai musisi dan aktor, bagi Achmad Albar, ini merupakan pembuktian setelah malang melintang sebagai musisi di negeri Belanda bersama grup Clover Leaf, dan jauh sebelumnya pernah terlibat dalam film anak-anak Jendral Kantjil.



Film Laila Majenun sebenarnya memiliki kemiripan dengan film Sjuman yang lain, seperti Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern. Film-film ini menggambarkan gesekan budaya yang memunculkan manusia-manusia gagap dan sakit secara sosial, serta masyarakat ibukota yang terpinggirkan dan mencoba bertahan di tengah gempuran modernisasi. Hanya saja, dalam film Si Doel, potret itu ditampilkan secara jenaka, terutama dengan kemunculan Benyamin S. Sedangkan di film Laila Majenun, tampak lebih serius.
Dalam pemilihan film-film terbaik sepanjang masa versi tabloid Bintang Indonesia yang dilakukan para tokoh dan wartawan film, film Laila Majenun tidak termasuk. Yang terpilih justru Si Doel Anak Betawi dan Si Doel Anak Modern.
Buat saya, film Sjuman Djaya mengingatkan pada film-film garapan Martin Scorsese, yang kerap menampilkan kegelisahan, amarah, bahkan sinisme, terhadap gemuruh zaman yang justru sering menyeret manusia dalam kehampaan. Kehampaan itu antara lain terlukis dalam lagu Manfred Mann's Earth Band, Father of Day, Father of Night, yang dinyanyikan lagi oleh Achmad Albar dengan gaya teaterikal di film Laila Majenun, seperti yang saya sertakan dalam tulisan di blog ini.

Serang, 19 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ghost in the Cell: Ketika Penjara Menjadi Miniatur Kelam Indonesia

Anton Bahtiar Rifa'i

Kebebasan yang Kusam dan Kecemasan Isaiah Berlin