Demokrasi di hari-hari ini telah sedemikian kusam. Kebebasan di era digital seringkali menjadi ladang bagi politik kebencian dan mobilisasi kebohongan. Kebebasan seakan mengalami titik balik. Ini mirip dengan situasi yang juga pernah dicemaskan Isaiah Berlin, filsuf Inggris keturunan Rusia, saat mendapati semangat pembebasan justru berubah menjadi totalitarianisme, seperti dipraktikkan rezim komunisme Josef Stalin di Uni Soviet tahun 1940-an. Hari ini, di era internet, kita bisa merasakan lagi keresahan Berlin, meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Padahal, di awal kehadirannya, internet menawarkan harapan yang indah bagi demokrasi. Internet –terutama fitur media sosial— telah menjadi katalis bagi proses keterbukaan dan kebebasan di berbagai negara. Dalam perkembangannya, media sosial memang memiliki pengaruh yang kuat bagi demokrasi. Bahkan, revolusi dan perubahan penting di sejumlah negara bermula dari gerakan yang dimobilisasi melalui media sosial. Pada 2011, Preside...
Komentar
Posting Komentar